MAFIA TANAH, Masyarakat Ulayat Desa Remban Kecamatan Rawas Ulu Tuntut PT. AMR Kembalikan Tanah Adat

TRIBUNUSBANYUASIN.COM | MURATARA - Lagi-lagi mafia tanah menuai korban, rakyat kecil lah menjadi mang sahnya..!!! mana kehadiran pemerintah untuk melindungi segenap tumpah dara dan memberi keadilan untuk seluruh tiap-tiap warga negara indonesia yang tercantum di dalam pembukaan UUD,45 itu.


Dianggap Tidak kooperatif dan Arogan, Ratusan Masyarakat Adat Desa Remban Kecamatan Rawas Ulu Sumatera Selatan melakukan aksi blokir lahan perusahaan tuntut PT Agro Muara Rupit kembalikan tanah ulayat.


" Kami melakukan pengerukan jalan yang dibuat PT Agro di lahan milik Ulayat hari ini. Karena perusahaan tersebut arogan dan mencaplok tanah ulayat kami seluas lebih kurang 8000 Hektar " umar Toyyib Ketua Adat desa Remban koordinator (korlap) Lapangan Aksi, (15/05/2021) Kemarin.


Selain itu menurut Toyyib PT. Agro Muara Rupit (AMR) tidak pernah menghormati masyarakat Adat dan umumnya warga desa Remban. Berapa kali pertemuan di Pemda Musi Rawas Provinsi Sumatera Selatan, tidak pertama mendengarkan aspirasi masyarakat. Bahkan seolah tidak menghormati pemerintahan daerah dengan mangkir setiap undangan penyelesaian sengketa lahan tersebut di Pemda.


Baca juga berita di bawa ini :

http://www.tribunusbanyuasin.com/2021/05/polres-banyuasin-berkelit-untuk.html?m=1


'" Group SIPEF ni memang arogan dan tidak punya etika serta menganggap remeh tuntutan rakyat tentang permasalah sengketa tanah di semua daerah di wilayah Muratara, terkhusus masyarakat Desa Remban. Bahkan Pemda Muratara pun tidak dihormati mereka. Bahkan kabarnya AMR ini byk permasalah di daerah ini terkhusus terkait masalah pajak dan kontribusi untuk masyarakat sekitar. Ini menunjukan bahwa perusahaan AMR ini arogan dan sewenang-wenang, ' tegas Toyib.

Ia berharap Pemerintah kabupaten Musi Rawas bisa bertindak tegas terhadap perusahaan tersebut. Jika perlu menurut beliau cabut izin perusahaan tersebut, karena tidak ada manfaatnya bagi masyarakat Musi Rawas Utara.

 

Senada yang diucapkan oleh Franky aktivis Mahasiswa yang mendampingi masyarakat tersebut mengatakan permasalahan lahan ulayat ini sudah lama dituntut masyarakat ulayat. Bahkan setidaknya di pemerintahan Devi Suhartoni dan Inayah Tula sudah ada panggilan pemda Muratara lebih dari  2 (dua) panggilan lebih untuk dengar pendapat dan mediasi, tapi PT. AMR selalu mangkir.


" Kapitalis ini (Pt AMR) tidak pernah menghormati pimpinan daerah ini. Berapa kali dipanggil Pemda selalu mangkir, bahkan kesan arogannya terlihat jelas dipamerkan kepada rakyat. Aksi hari ini adalah klimaks kemarahan rakyat Adat desa Remban yang sudah geram dengan  tingkah laku arogansi Kapitalis group SIPEF ini " papar Frengki Geram.


Kami berharap PT AMR jangan memprovokasi masyarakat dengan menutup kembali aksi kerusakan jalan di wilayah tanah ulayat desa Remban. Dan kami tidak akan berhenti berjuang demi hak rakyat. Dan menurut ia akan ada aksi selanjutnya terkait hal tersebut

" Tanah Untuk Rakyat, Go to Hell Kapitalis tidak bermanfaat bagi rakyat " tukas Frengki.


Dilain pihak, kepala Security PT Agro Muara Rupit, Nikmat di lapangan  mengatakan pihaknya akan melaporkan hal tersebut kepada pimpinan perusahan tersebut agar menanggapi tuntutan rakyat tersebut.


" Ini masih suasana lebaran, nanti kami sampaikan tuntutan warga. Terkait tidak kooperatifnya perusahaan menurut warga, kami tidak paham karena kamu cuma bawahan, " ujarnya. (Gr)

Posting Komentar

0 Komentar